Sabtu, 06 Agustus 2011

Al-Biruni


Kehadiran Al-Biruni (973-1048 M) sebagai ilmuwan di Abad Pertengahan dicatat dengan tinta emas dalam khazanah sejarah peradaban Islam. Dengan nama lengkapnya Abu Ar-Raihani Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ia mampu memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora secara komprehensif dan integral. Pemikirannya yang orisinal menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta humaniora di abad-abad sesudahnya.

Menjelang dewasa, ia hijrah dari tanah kelahiran di Khawarizmi menuju Gazna di Afganistan, kemudian ke India - yang kala itu berada dalam pemerintahan Dinasti Gaznawi. Ia lalu menuliskan pengembaraannya itu dalam buku kitab al-Hind (1017), yang menguraikan seluk beluk agama Hindu dan sains serta adat istiadat India di Abad Pertengahan.

Dalam buku tersebut, ia mengungkapkan beberapa hal yang bertalian dengan geografi, proyeksi cahaya, azimut bintang, perubahan ekologi lembah Sungai Indus, makhluk angkasa luar di bumi dan di langit Timur, anak kembar Siam, teknik permainan catur yang digemari para raja India.

Sebelumnya ia telah menulis sebuah buku tentang sejarah bangsa-bangsa zaman purba berjudul Al-Ardl al-Baqiyyah 'anil Qurni al-Khaliyah, yang abad ke 19 diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan judul Chronolgy of Ancient Nations, yang cetakan terbarunya terbit pada 1993, Ia juga menulis buku astronomi yang dipersembahkan bagi Sultan Mas'ud Al-Gaznawi berjudul Al-Qanun al-Mas'udi fi al-Haiah wa al-Nujum (1030)

Buku lainnya disusun dalam bentuk tanya-jawab mengenai ilmu ukur, matematika, astronomi, dan struktur ruang angkasa, berjudul Al-Tafhim fi Awai al-Sina'ah al-Tanjim. Pendapat Al-Biruni dalam buku ini benar-benar baru dan orisinal, ia berhasil menyelesaikan masalah yang kala itu masih diperdebatkan para ilmuwan. Terutama mengenai rotasi bumi, penetapan garis lintang (latitude), garis bujur (longitude), serta hipotesa tentang alam semesta yang bersifat relatif. Besar kemungkinan, teori relativitas Einstein dilhami oleh hipotesa Al-Biruni.

Ia juga menulis berjilid-jilid buku tentang batu-batuan dan logam mulia. Dalam buku Kitab al-Jamahir Ma'rifah al-Jawahir, ia menganalisis 18 jenis permata dari sudut pandang ekonomi, estetika, dan etika. Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, penulis buku The Dynamics of Islam (1982), dengan buku itu Al-Biruni menampakan tiga dimensi kepribadian: sebagai guru etika dan filsafat moral, ahli mineralogi dan batu mulia, dan sebagai penilai batu mulia.

Hasil karya Al-Biruni mencapai 180 judul, meliputi aneka masalah ilmu pengetahuan dan teknologi serta humaniora. Sayang, hanya sebagian yang tercatat dan terkumpulkan dalam bentuk manuskrip asli. Beberapa karyanya yang lain, Kitab al-Syahdalah (tentang farmakologi, pengobatan), Tahdid Nihayah al-Amakin (penentuan kordinat kota), Kitab al-Kusuf wa al-Khusuf 'ala Khayal al-Hunud (pandangan orang India tentang gerhana matahari dan bulan), Maqalid Ilmu al-Hay'ah (kunci ilmu astronomi).

Karena berkiprah di Afganistan, India, Cina, dan sekitarnya, ia dianggap sebagai pembangun ilmu yang disebut Madzhab Timur di Istanbul, mata rantai keilmuan dunia Islam yang tak terpisahkan dari Madzhab Barat, yang berpusat di Baghdad. Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, konsep utama filsafat moral Al-Biruni terkandung dalam teori tentang al-Muruwwa (kebajikan) dan al-Futuwwa (keutamaan) yang saling terkait, sebagai anugrah Allah SWT lewat mineral emas dan perak. Karena itu, emas dan perak harus digunakan untuk kesejahtraan umat dan negara.



Sumber : Majalah Barokah

Ar-Razi

Abubakar Muhammad ibn Zakaria Ar-Razi, lebih dikenal dengan nama Ar-Razi, adalah salah seorang intelektual muslim yang sempat membintangi sejarah peradaban dunia, yang di Barat lebih dikenal sebagai Rhazes. Dia juga perintis ilmu kedokteran yang menjadi rujukan dalam ilmu kedokteran modern. Lahir di Rayy, dekat Teheran, Iran, pada 846 M, ia wafat di kota kelahirannya pada 925 M.

Dididik dan dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat, sejak muda ia telah menggeluti filsafat, kimia, matematika, dan kesusastraan. Ia baru tertarik dan menekuni masalah kedokteran secara serius justru ketika mulai beranjak tua. Kejeniusannya di bidang kedokteran dan pengobatan menempatkannya dalam deretan ilmuwan muslim yang sangat dihormati di Barat.

Menurut AJ. Aberry dalam pengantar terjemahan buku karya Ar-Razi, The Spritual Physic of Rhazes (Penyembuhan Ruhani), Ar-Razi lebih banyak mencermati tradisi intelektualisme di sekitar filsafat, logika, eksakta, dan kedokteran. Dalam bidang kedokteran, ia belajar khusus sampai ke Baghdad. Kala itu Baghdad tengah dalam puncak keemasan intelektualisme. Di sanalah Ar-Razi berguru pada Humayun ibnu Ishaq, ulama yang menguasi ilmu pengoban, hingga menguasai dasar-dasar ilmu pengobatan.

Karena kepakarannya itulah, ia diangkat sebagai pemimpin sebuah rumah sakit. Selain menjadi dokter, ia juga mengajar. Ribuan mahasiswa tidak hanya berdatangan dari berbagai penjuru negeri muslim, tapi juga dari belahan dunia Barat. Ia menerapkan metode perkuliahan yang unik, tapi sangat mendidik. Yakni, memberi kesempatan kepada mahasiswa senior dan yunior untuk membahas berbagai persoalan. Jika mereka tak mampu memecahkannya, barulah merujuk kepada Ar-Razi. Sistem ini pula yang kini banyak dikembangkan di berbagai universitas terkemuka di Barat dan sebagian di Timur.

Selama 35 tahun berpraktek, ia tidak hanya berkeliling di sekitar Baghdad atau Rayy, Teheran, tapi juga ke beberapa daerah lain. Di tengah kesibukannya yang semakin meningkat, dan usianya yang semakin sepuh, ia terserang penyakit katarak hingga buta. Ketika dianjurkan untuk berbekam, ia menjawab "Tidak, aku sudah lama melihat seluruh dunia hingga letih"

Para ilmuwan Barat menyebutnya sebagai pionir terbesar dalam ilmu kedokteran. Sejarawan Max Mayerhof bahkan menyebutnya sebagai "tabib (dokter) terbesar dunia Islam, dan seorang yang terbesar sepanjang sejarah". Sementara sejarawan George Sarton menulis:
"Rhazes bukan hanya tabib terbesar dunia Islam dan Abad Pertengahan, ia juga kimiawan dan fisikawan. Ia adalah salah seorang perintis latrokimia zaman Renaisans. Ia sangat maju dalam teori, memadukan pengetahuan yang luas melalui kebijaksanaan Hippokrates".


Sumber : Majalah Barokah

Ibnu Rusyd


Abul Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusydi, yang di Barat lebih dikenal sebagai Averrus, adalah ilmuwan muslim yang berpengaruh sejak abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya. Dialah yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan pemikiran Yunani. Ia lahir pada 1126 M di Qurtubah (Cordoba, Spanyol). Ayahnya ahli hukum yang sangat berpengaruh. Banyak pula saudaranya yang menduduki posisi penting di pemeritahan.

Kebesran Ibnu Rusyd sebagai pemikir sangat dipengaruhi jiwa zamannya. Kala itu, abad ke-12 dan beberapa abad sebelumnya, adalah zaman kemasan ilmu pengetahuan di dunia Islam yang berpusat di Andalusia, Spanyol, di bawah pemerintahan Dinasti Abasiyyah. Kala itu, para penguasa sangat mendukung perkembangan ilmu, dan sering memerintahkan para ilmuwan untuk menggali warisan intelektual Yunani. Berkat jasa merekalah, nama ilmuwan dan filsuf Yunani seperti Aristoteles, Plato, Phitagoras, Euclides, dan karya-karyanya terpelihara sampai sekarang.

Ibnu Rusyd adalah ilmuwan komplet. Selain ilmu filsafat, ia juga pakar ilmu kedokteran, sastra, logika, ilmu pasti, di samping mengetahui pengetahuan ilmu keislaman, khususnya tafsir Al-Qur'an dan Hadist maupun fiqih. Karya terbesarnya dalam bidang kedokteran, Al-Kuliyat fi al-Tibb (Hal-hal Umum Ilmu Pengobatan), menjadi rujukan utama ilmu kedokteran hingga kini.

Belakangan ia diangkat sebagai hakim agung di Cordoba di masa pemerintahan Khalifah Abu Ya'kub Yusuf dan anaknya Khalifah Abu Yusuf - posisi yang juga pernah dijabat kakeknya di masa pemerintahan Dinasti Al-Murabitun di Afrika Utara.

Jerih payahnya menerjemahkan karya-karya Aristoteles dan Plato, sangat berpengaruh hingga kini. Antara 1169 sampai 1195, ia menulis komentar megenai karya Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan melalui bahasa-bahasa

Eropa dengan berbagai judul: De Organon, De Anima, Phisyca, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua itu sangat berpengaruh pada pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani.


Sumber: Majalah Barokah

Ibnu Sina


Ibnu Sina (980-1037 M), yang dikalangan ilmuwan Barat lebih dikenal sebagai Avicenna, adalah filsuf, ilmuwan, dokter, yang lahir di sebuah kawasan di Persia - yang kini masuk wilayah Uzbekistan. dikalangan dunia kedokteran, bahkan juga hingga kini, dia dianggap sebaga Bapak Pengobatan Modern. Salah satu karyanya yang sangat terkenal ialah Qanun fi Thib (Canon of Medicine, Aturan Pengobatan), rujukan di bidang kedokteran di universitas-universitas di Eropa sampai abad k-17. Karya tersebut diterbitkan di India (1323 M) dan Roma (1593 M).

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Husain ibn Abdullah ibn Sina. Ia lahir pada 340 H/980 M di Afsyana, Bukhara, Asia Tengah. Sejak remaja ia sudah hafal Al-Qur'an dan mempelajari ilmu agama dan astronomi. Ketika itu ia juga sudah menguasai dasar-dasar ilmu kedokteran, matematika, fisika, logika, dan metafisika.

Menginjak usia 17 tahun, ia berhasil menangani penyakit yang diderita Khalifah Nuh ibn Al-Manshur, sehingga diizinkan belajar di perpustakaan Khalifah. Di perpustakaan itulah ia mendapatkan keleluasaan untuk mempelajari buku-buku ilmu pengetahuan yang kala itu termasuk langka.

Menginjak usia 22 tahun, ketika ayahandanya wafat, ia meninggalkan Bukhara menuju jurjan, kemudian ke Khawarazmi sampai akhirnya ke Mamadzan. Dalam karier keilmuannya, ia berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci. Meski Al-Ghazali dan Fakhruddin Al-Razi mengkritik pemikirannya, dunia tak mampu menolak keaslian dari sistem filsafat yang dibangunnya. Dengan jenius ia menemukan metode dan alasan yang menopang pemikiran rasional murni dari tradisi intelektual Hellenisme Yunani.

Keaslian pemikiran Ibnu Sina merupakan salah satu puncak pemikiran filsafat Islam di Abad Pertengahan. Tidak hanya berpengaruh di dunia Islam, pemikiran Ibnu Sina bahkan juga mempengaruhi para teolog Barat, terutama Orde Dominikian. Perumusan kembali teologi Katolik Roma yang digagas oleh filsuf Thomas Aquinas dipengaruhi oleh pemikiran Ibnu Sina.

Selain Thomas Aquinas, beberapa pemikiran Barat juga terpengaruh oleh pemikiran Avicenna, seperti Gundisalvus (yang sebagian besar karyanya, De Anima, merupakan salinan besar-besaran dari pemikiran Ibnu Sina) Robert Grosseteste, dan Roger Bacon.

Dalam Asy-Syifa, buku karya flsafatnya yang terpenting, ia mengulas logika, fisika, matematika, dan metafisika ketuhanan. Naskah-naskahnya tersebar di beberapa perpustakaan Barat dan Timur. Sementara /An-Najat/ adalah ringkasan kajian-kajian dalam Asy-Syifa. Bidang metafisika dan fiska pernah dicetak dengan cetakan batu di Taheran. Buku-buku itu dicetak di Mesir (1331) dan di Roma (1593).

Pada 1951, pemerintahan Mesir dan Arab Saudi membentuk panitia penyunting Ensiklopedia Asy-Syifa, sementara bidang logika diterbitkan di Kairo pada 1954 dengan judul Al-Burhan. Adapun bab ke-6 bidang fisika, sebagai landasan psikologi modern, diterbitkan oleh lembaga keilmuan Cekoslovakia di Praha, juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Karya filsafatnya yang paling monumental, Al-Isyarat wa Al-Tanbihat, pernah diterbitkan di Leiden, Belanda, pada 1892, dan di Kairo pada 1947.

Pada usia relatif muda, 57 tahun, ia wafat di Hamadzan pada 428 H/1037 M, setelah menderita sakit. Ia meninggalkan warisan sangat berharga berupa sejumlah karya besar untuk dunia keilmuan.


Sumber : Majalah Barokah

Al-Khawarizmi


Istilah aljabar (algebra), bagian dari disiplin ilmu matematika, berasal dari sebuah judul buku terkenal Al-Jabr al-Muqabilah. Penulisnya adalah seorang ulama besar yang dikenal dengan julukan Al-Khawarizmi. Dalam buku itu ia merumuskan dan menjelaskan secara mendetail tabel trigonometri seperti yang kita pelajari sekarang. Tidak hanya itu, jika kita pelajari secara terperinci, buku itu pula memperkenalkan teori kalkulus dasar dengan mudah. Namanya begitu penomenal, sehingga di abad-abad kemudian namanya berkembang dikalangan para ilmuwan matematika di Barat sebagai algorisma dan algoritma. Bukan hanya akar matematikan Al-Khawarizmi juga termasyhur dalam astronomi dan geografi.

Dalam astronomi, ia menciptakan tabel yang mengelompokan ilmu perbintangan. Dan dalam bidang geografi, ia membuat koreksi mendasar pada pemikiran filsuf Yunani. Kala itu ada tujuh pakar geografi yang bekerja di bawah koordinasi Al-Khawarizmi. Kelompok inilah yang pertama kali menciptakan peta bumi yang kini kita kenal sebagai globe. Karya ini dikenal oleh dunia pada 830 M, 10 tahun sebelum ilmuwan besar muslim itu wafat.

Pada awal abad ke-12, karya-karyanya, seperti Al-Muqala fi Hisab dan Al-Jabr wal Muqabilah, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Adeard of Bath dan Gerard of Cremona, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa dan Cina. Sampai pertengahan abad ke-16, karya-karya Al-Khawarizmi masih menjadi taxt book di beberapa universitas di Eropa.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi, intelektual muslim yang lahir pada 770 M di kota Khawarizmi. Tak ada data yang pasti kapan tepatnya dia dilahirkan. Khawarizmi adalah sebuah kota kecil di pinggir bagian selatan Sungai Oxus, yang mengalir panjang, membelah Uzbekistan (kini masuk wilayah Turkmenistan, Asia Tengah).

Selama berabad-abad, Uzbekistan, yang mayoritas penduduk muslim, berada dalam tatanan pemerintahan Islam yang makmur dengan rahmat melimpah. Pada 1873, Kekaisaran Tsar Rusia mengambil alih kawasan subur dan indah itu, dan selanjutnya wilayah tersebut menjadi negara bagian dalam lingkungan Uni sovyet. Tapi, kini sudah menjadi negara merdeka.

Ketika Al-Khawarizmi masih kecil, orang tuanya hijrah ke Baghdad, Irak. Saat itu Irak di bawah pemerintahan  Khalifah Al-Ma'mun. Kelak disinilah ia melahirkan konsep matematika yang kemudian oleh intelektual Barat (dan kita disini sekarang) disebut algoritma - karena orang Barat terlalu sulit melafalkan nama Al-Khawarizmi.

Ini yang menarik dalam Islam, seorang tokoh yang ahli dalam satu bidang, ahli pula dalam bidang lain. Ini membuktikan, Islam adalah tatanan menyeluruh yg tak memisahkan antara satu disiplin ilmu yg satu dan yg lain. Belajar matematika tak lepas dari astronomi, belajar astronomi tak lepas dari belajar tentang alam, dan itu semua terkait erat dengan tauhid: kedahsyatan alam semesta ini tercipta berkat kebesaran Allah SWT semata.

Sumber : Majalah Barokah

Khalifah Al-Ma'mun


Meski sebagian besar penguasa Dinasti Abbasiyyah dianggap tiran, dan pembela aliran Mu'tazilah-yang bertolak belakang dengan paham Ahlussunnah wal Jama'ah - mereka sangat berjasa dalam memajukan peradaban Islam hingga mencapai puncaknya. Beberapa kebijakan para khalifah yang sangat peduli pada perkembangan ilmu pengetahuan itu sedikit menghapus luka sejarah ribuan orang yang dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh, termasuk diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri Madzhab Hanbali.

Puncak kejayaan tetinggi dicapai pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid dan putranya, Khalifah Al-Ma'mun. Mereka membangun ratusan rumah sakit, sekolah tinggi kedokteran dan farmasi. Bahkan pemerintah memiliki 800 orang dokter yang digaji oleh negara. Mereka juga membangun beberapa pemandian umum diberbagai sudut kota. Bahkan istri Harun Ar-Rasyid membangun saluran air dari Thaif untuk memenuhi kebutuhan air di Makkah yang tak cukup dipenuhi hanya dengan air yang bersumber di sumur Zamzam.

Masa keemasan itu dilanjutkan oleh Khalifah Al-Ma'mun (813-833 M), Yang juga mendirikan banyak sekolah dan universitas serta menggagas proyek penerjemahan berbagai buku ilmiah karya para ilmuwan dan pujangga Yunani ke dalam bahasa Arab. Karya paling monumentalnya ialah pembangunan Bayt Al-Hikmah, perpustakaan sekaligus perguruan tinggi.

Di masa pemerintahannya, Imam Syafi'i (767-820 M) dan Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M) menulis kitab fiqih yang kemudian menjadi madzhab fiqih yang termasyur. Dua orang pemikir Islam Mu'tazilah yang lebih mengedepankan rasonalitas, yakni Abu Huzail (752-849 M) dan Al-Nazham (801-835 M), juga melempar gagasan brilian mereka pada periode ini




Sumber: Majalah Barokah

Nizhamul Mulk


Ia adalah pendiri universitas legendaris, Nizhamiyyah, di Persia (kini Iran). Lahir pada 22 Dzulqaidah 408 H / 10 April 1018 M di Thus (di Khurasan, Persia sebelah timur laut, dekat Asia Tengah), nama aslinya Abu Ali Al-Hasan bin Ali bin Ishaq At-Thusi. Ia adalah cendikiawan dan politikus Persia terkemuka abad ke-5 Hijriah yang pernah menjabat perdana mentri kurang lebih selama 30 tahun di masa pemerintahan Sultan Alp Arselan dan Sultan Maliksyah dari Dinasti Saljuk.

Ia menulis sebuah kitab yang sangat terkenal, Siyasat Nameh, memuat pengalamannya selama menjadi mentri berikut pandangan-pandangannya mengenai sistem pemerintahan yang ideal. Hingga kini, kitab tersebut dianggap sebagai salah satu karya sastra Iran yang penting.

Sejak kecil ia belajar berbagai pengetahuan agama kepada ulama Madzhab Syafi'i, Hibatullah Al-Muwaffaq. Ayahnya adalah pegawai pemerintah Gaznai di Thus, Khurasan, salah satu wilayah yang cukup maju kala itu. Ketika Khurasan jatuh ke dalam kekuasaan Dinasti Saljuk yang berpusat di Baghdad, sang ayah membawanya lari ke Khusrawjird, lalu ke Gazna. Di pusat pemerintahan Dinasti Gaznawi ini, Nizhamul Mulk bekerja di kantor pemerintahan Mahmud Gaznawi.

Merasa karirnya tak akan berkembang, ia hijrah ke Balkh, kemudian ke Marv, tempat dia mencapai prestasi gemilang sebagai pengelola pemerintahan, sehingga Sultan Alp Arselan memanggilnya untuk menduduki posisi wakil perdana mentri. Beberapa tahun kemudian, ketika Perdana Mentri Dinasti Saljuk wafat, ia diangkat sebagai penggantinya. Sejak menjabat perdana mentri itulah, ia, Al-Hasan, mendapat gelar Nizhamul Mulk.

Universitas Nizhamiyah yang menghasilkan sejumlah ulama besar, dibangun pada 1067 M di Baghdad, sebagai inisiatif Nizhamul Mulk. Hal itu tampak dari diajarkannya Madzhab Syafi'i, yang dianut oleh Nizhamul Mulk, di universitas tersebut, bukan Madzhab Hanafi atau Maliki, yang dianut keluarga Sultan.

Universitas ini juga termasyhur dengan pelajaran ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah) untuk bahasa, dan ushul fiqh dan qawaidul fiqhiyyah untuk ilmu fiqih. Selain itu juga universitas ini juga dianggap sebagai basis pengembangan ilmu kalam yang bercorak Asy'ariyyah. Bahkan beberapa rektornya, seperti Al-Jawani dan Abu Hamid Al-Ghazali (lebih dikenal sebagai Imam Ghazali), trmasyhur sebgai mutakallim, ahli ilmu kalam, yang bermadzhab Asy'ariyyah.

Dalam waktu singkat universitas ini berkembang pesat dengan beberapa cabang diberbagai daerah, terutama di Khurasan dan Persia. Jumlah wakaf yang besar membuat universitas-yang dinilai sebagai labolatarium intelektualitas terbesar kala itu-mampu menyediakan fasilitas yang lebih dari cukup bagi para mahasiswa dan pengajarnya.

Para mahasiswa yang datang dari penjuru negeri muslim itu dimanjakan dengan beasiswa, akomodasi, dana pembelian kitab, dan berbagai tunjangan lain. Para dosennya pun sangat berkualitas, dengan gaji yang sangat tinggi buat ukuran masa lalu. Untuk kenyamanan belajar, pemerintah juga menyediakan perpustakaan dengan koleksi ribuan buku karya para ulama dan intelektual termasyhur, termasuk terjemahan karya ilmuwan Yunani dan Romawi.

Suasana di seantero Universitas Nizhamiyyah kala itu sering digambarkan seperti surga ilmu. Di berbagai sudut mesjid dan taman, dapat dengan mudah ditemukan halaqah, lingkaran diskusi, yang diikuti para mahasiswa dan masyarakat umum. Begitu dominan pengaruh keilmuan universitas tersebut, sehingga abad ke-5 Hijriah itu disebut Era Nizhami.

Sistem manajemen dan administrasi yang tertata rapi membuat Nizhamiyyah dapat berkembang dan berpengaruh meski pendirinya wafat pada 1092 M. Bahkan, ketika invasi bangsa Mongol usai, satu-satunya lembaga pendidikan yang masih bisa bertahan hidup hanyalah Univesitas Nizhamiyyah.



Sumber: Majalah Barokah

Adukanlah Keluh Kesahmu Hanya Kepada Al-Rahman!

Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah – ...

Copyright @ 2013 Desau rindu.