Meski sebagian besar penguasa Dinasti Abbasiyyah dianggap tiran, dan pembela aliran Mu'tazilah-yang bertolak belakang dengan paham Ahlussunnah wal Jama'ah - mereka sangat berjasa dalam memajukan peradaban Islam hingga mencapai puncaknya. Beberapa kebijakan para khalifah yang sangat peduli pada perkembangan ilmu pengetahuan itu sedikit menghapus luka sejarah ribuan orang yang dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh, termasuk diantaranya Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri Madzhab Hanbali.
Puncak kejayaan tetinggi dicapai pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid dan putranya, Khalifah Al-Ma'mun. Mereka membangun ratusan rumah sakit, sekolah tinggi kedokteran dan farmasi. Bahkan pemerintah memiliki 800 orang dokter yang digaji oleh negara. Mereka juga membangun beberapa pemandian umum diberbagai sudut kota. Bahkan istri Harun Ar-Rasyid membangun saluran air dari Thaif untuk memenuhi kebutuhan air di Makkah yang tak cukup dipenuhi hanya dengan air yang bersumber di sumur Zamzam.
Masa keemasan itu dilanjutkan oleh Khalifah Al-Ma'mun (813-833 M), Yang juga mendirikan banyak sekolah dan universitas serta menggagas proyek penerjemahan berbagai buku ilmiah karya para ilmuwan dan pujangga Yunani ke dalam bahasa Arab. Karya paling monumentalnya ialah pembangunan Bayt Al-Hikmah, perpustakaan sekaligus perguruan tinggi.
Di masa pemerintahannya, Imam Syafi'i (767-820 M) dan Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M) menulis kitab fiqih yang kemudian menjadi madzhab fiqih yang termasyur. Dua orang pemikir Islam Mu'tazilah yang lebih mengedepankan rasonalitas, yakni Abu Huzail (752-849 M) dan Al-Nazham (801-835 M), juga melempar gagasan brilian mereka pada periode ini
Sumber: Majalah Barokah

0 komentar:
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda (sertakan nama bila yang dipilih: anonymous)