Sabtu, 06 Agustus 2011

Ilmuwan Muslim

 Assalaamu'alaaikum Wr. Wb.

Para Netter yang dimuliakan Allah, di masa silam, Islam pernah mengalami masa keemasan yang gemilang. Kala itu, luas bentangan wilayah Daulah Islamiyyah diimbangi secara cemerlang dg penguasaan khasanah keilmuan. Mutiara-mutiara pengetahuan mengalir bak air bah dari ujung pena para ilmuwan muslim, mewarnai halaman sejarah, bahkan masih berpengaruh hingga ribuan tahun kemudian.
Meski kalangan Barat menganggap kaum muslimin sebagai (bekas) musuh dalam Perang Salib, namun di satu sisi diakui sebagai umat yang berjasa bagi perkembangan peradaban dunia. Dalam buku The History of Arab, Philips K. Hitti, sejarawan asal Inggris, mengungkapkan bahwa kaum muslimin mencapai puncak peradaban dan kebudayaan tinggi setelah melakukan beberapa kali pembebasan wilayah dalam waktu yang sangat singkat. Mereka mampu membangun peradaban yang cukup tinggi, ditunjang oleh ilmu pengetahuan, kesenian, kesusastraan, filsafat. Banyak sarana penunjang dibangun, seperti mesjid, madrasah, universitas, perpustakan, labolatorim, observatorium, rumah sakit. Sumber pendana  ketika itu ialah wakaf, hadiah para amir, hartawan, dan ulama. Salah seorang diantaranya Muhammad bin Abdul Malik Az-Zayyat, menghibahkan 2000 dinar setiap bulan untuk para penerjemah dan penyalin kitab.

Peradaban Islam melaju cepat seiring meningkatnya kecintaan kaum muslimin terhadap ilmu pengetahuan. Kala itu banyak perpustakaan besar didirikan, seperti perpustakaan khalifah Dinasti Fatimiyah di Kairo yang menyimpan koleksi sejumlah mushaf dan sekitar dua juta eksemplar kitab berbagai disiplin ilmu.

Mengungkap sejarah kecemerlangan peradaban Islam masa silam, harus menyebut beberapa nama besar sebagai lokomotif dan ikon sejarah peradaban dunia. Berikut profil singkat beberapa tokoh intelektual muslim yang namanya tertoreh abadi pada monumen keilmuan dunia:

1.      Nizhamul Mulk
2.      Khalifah Al-Ma'mun
3.      Al-Khawarizmi
4.      Ibnu Sina
5.      Ibnu Rusyd
6.      Ar-Razi
7.      Al-Biruni
8.      Ibnu Khaldun
9.      Al-Farabi
10.    Jabir bin Hayyan



Mohon Maaf yang sebesar-besarnya bila ada banyak kekurangan...!!

Semoga Entri kali ini bisa bermanfaat untuk kita semua dan sedikitnya bisa menambah perbendaharaan ilmu para Netter sekalian.


Akhiru salam

Wasalaamu'alaaikum Wr. Wb.




Sumber: Majalah Barokah, Risalah Utama : Bintang-bintang di Langit Peradaban Dunia, edisi Mei 2010


Penulis Entri :







Yanuka Yat Nurkahyatno

Jabir bin Hayyan


Abu Musa Jabir Ibn Hayyan (721-815 H/1301-1395 M), yang memperkenalkan cabang ilmu kimia. Lahir di Kuffah, Irak, ia lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan, dan di Barat disebut Ibnu Geber.

Jabir banyak belajar kepada imam besar ahlul bait, Ja'far Shadiq. Juga pada Bermaki Vizier pada masa kekhalifahan Harun Al-Rasyid. Berkat penemuannya, Jabir dijuluki Bapak Kimia Modern.

Semasa hidupnya, Jabir pernah bekerja di labolatorium dekat Bawwabah di Damaskus. Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Dua ratus tahun setelah wafatnya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, labolatorium Jabir ditemukan. Di dalamnya terdapat peralatan kimia yang hingga kini masih mempesona.

Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan berjumlah lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaisans. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah. Buku lain tentang penguraian beberapa asam terdapat dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah.

Di Abad Pertengahan, karya-karya Jabir telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan kitabnya yang termasyhur, Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab'een, bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris tahun 1444.

Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.



Sumber: Majalah Barokah

Al-Farabi

Abu Nasir Al-Farabi (870-950), yang kemudian lebih dikenal dengan nama Al-Farabi, lahir di Farab, Kazakhistan, Asia Tengah. Menginjak usia 50 tahun ia hijrah ke Baghdad untuk menuntut ilmu selama 20 tahun. Di masa tuanya, ia bekerja di istana kesultanan di Aleppo, Syria.

Ia adalah komentator pemikiran filsafat para filsuf Yunani. Kemungkinan besar ia mengenal pemikiran para filsuf Yunani dari terjemahannya ke dalam bahasa Arab. Selain itu ia pun dikenal sebagai pakar matematika, musik, ketabiban. Ia menulis berbagai buku tentang sosiologi, dan sebuah buku penting tentang musik, Kitab al-Musiqa. Tidak hanya berteori, ia juga mampu memainkan dan menciptakan berbagai instrumen musik.




Sumber: Majalah Barokah

Ibnu Khaldun


Ibnu Khaldun dikenal sebagai peletak dasar sosiologi dan sejarah sains. Ia sangat terkenal berkat master piece-nya, Al-Muqqaddimah - yang di Barat dikenal sebagai Prolegomena. Nama aslinya Abdullah Al-Rahman ibn Muhammad. Ia lahir di Tunisia dari keluarga bangsawan pada 723 H/ 1332 M. Keluarganya berasal dari Sevile, Spanyol, yang berpenduduk muslim.

Sejak kecil ia mengaji Al-Qur'an, Hadits, tauhid, dan fiqih di Tunisia dan Fez. Selain itu ia juga menekuni matematika, astronomi, filsafat, dan sastra. Karena kepandaiannya itulah ia diterima bekerja di lingkungan istana Sultan Barquq di Mesir. Semasa muda ia bekerja di pemerintahan di Tunisia dan Fez (Maroko), Granada (Spanyol Islam), dan Biaja (Afrika Utara). Pada 1375 ia mengasingkan diri ke Granada.

Tapi, karena kegiatan politiknya di masa lalu, Granada menolaknya. Ia lalu menuju Aljazair, tinggal di desa kecil Qalat Ibnu Salama selama empat tahun. Di sanalah ia menulis Al-Muqqaddimah - yang kelak menyejajarkan namanya diantara nama-nama besar para sejarawan dan sosiologi dunia. Buku itu membuat intelektual dunia dulu dan kini, di Timur dan Barat, mengaguminya.

Bagian pertama buku itu, Al-'Ibar, merupakan analisis tentang manusia dan sejarah yang tajam dan rasional. Dengan buku inilah Ibnu Khaldun memberi arah pada ilmu psikologi, ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial. Ia juga menganalisis tentang hubungan antar manusia. Ia pun menganalisis al-'asabiyyah, fanatisme, yang kelak memberi pandangan baru dalam ilmu politik dan sosiologi. Selain dikenal sebagai kritikus sejarah yang disegani, ia juga printis sosiologi.

Bukan hanya itu, jauh-jauh hari ia sudah menyimpulkan penyebab kehancuran sebuah negara, yaitu ketidakadilan, kekecewaan rakyat, dan tirani.

Selain sebagai sejarawan dan sosiolog, Ibnu Khaldun dikenal pula sebagai perintis pendidikan modern yang sangat percaya pada kekuatan akal. Di kemudian hari, pemikiran dan analisis  Ibnu Khaldun, banyak memberikan pengaruh pada dunia ilmu sosial, politik, sejarah, filsafat, dan pendidikan.


Sumber: Majalah Barokah

Al-Biruni


Kehadiran Al-Biruni (973-1048 M) sebagai ilmuwan di Abad Pertengahan dicatat dengan tinta emas dalam khazanah sejarah peradaban Islam. Dengan nama lengkapnya Abu Ar-Raihani Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ia mampu memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan humaniora secara komprehensif dan integral. Pemikirannya yang orisinal menjadi dasar pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta humaniora di abad-abad sesudahnya.

Menjelang dewasa, ia hijrah dari tanah kelahiran di Khawarizmi menuju Gazna di Afganistan, kemudian ke India - yang kala itu berada dalam pemerintahan Dinasti Gaznawi. Ia lalu menuliskan pengembaraannya itu dalam buku kitab al-Hind (1017), yang menguraikan seluk beluk agama Hindu dan sains serta adat istiadat India di Abad Pertengahan.

Dalam buku tersebut, ia mengungkapkan beberapa hal yang bertalian dengan geografi, proyeksi cahaya, azimut bintang, perubahan ekologi lembah Sungai Indus, makhluk angkasa luar di bumi dan di langit Timur, anak kembar Siam, teknik permainan catur yang digemari para raja India.

Sebelumnya ia telah menulis sebuah buku tentang sejarah bangsa-bangsa zaman purba berjudul Al-Ardl al-Baqiyyah 'anil Qurni al-Khaliyah, yang abad ke 19 diterjemahkan ke dalam bahasa inggris dengan judul Chronolgy of Ancient Nations, yang cetakan terbarunya terbit pada 1993, Ia juga menulis buku astronomi yang dipersembahkan bagi Sultan Mas'ud Al-Gaznawi berjudul Al-Qanun al-Mas'udi fi al-Haiah wa al-Nujum (1030)

Buku lainnya disusun dalam bentuk tanya-jawab mengenai ilmu ukur, matematika, astronomi, dan struktur ruang angkasa, berjudul Al-Tafhim fi Awai al-Sina'ah al-Tanjim. Pendapat Al-Biruni dalam buku ini benar-benar baru dan orisinal, ia berhasil menyelesaikan masalah yang kala itu masih diperdebatkan para ilmuwan. Terutama mengenai rotasi bumi, penetapan garis lintang (latitude), garis bujur (longitude), serta hipotesa tentang alam semesta yang bersifat relatif. Besar kemungkinan, teori relativitas Einstein dilhami oleh hipotesa Al-Biruni.

Ia juga menulis berjilid-jilid buku tentang batu-batuan dan logam mulia. Dalam buku Kitab al-Jamahir Ma'rifah al-Jawahir, ia menganalisis 18 jenis permata dari sudut pandang ekonomi, estetika, dan etika. Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, penulis buku The Dynamics of Islam (1982), dengan buku itu Al-Biruni menampakan tiga dimensi kepribadian: sebagai guru etika dan filsafat moral, ahli mineralogi dan batu mulia, dan sebagai penilai batu mulia.

Hasil karya Al-Biruni mencapai 180 judul, meliputi aneka masalah ilmu pengetahuan dan teknologi serta humaniora. Sayang, hanya sebagian yang tercatat dan terkumpulkan dalam bentuk manuskrip asli. Beberapa karyanya yang lain, Kitab al-Syahdalah (tentang farmakologi, pengobatan), Tahdid Nihayah al-Amakin (penentuan kordinat kota), Kitab al-Kusuf wa al-Khusuf 'ala Khayal al-Hunud (pandangan orang India tentang gerhana matahari dan bulan), Maqalid Ilmu al-Hay'ah (kunci ilmu astronomi).

Karena berkiprah di Afganistan, India, Cina, dan sekitarnya, ia dianggap sebagai pembangun ilmu yang disebut Madzhab Timur di Istanbul, mata rantai keilmuan dunia Islam yang tak terpisahkan dari Madzhab Barat, yang berpusat di Baghdad. Menurut Syed Habibul Haq Nadvi, konsep utama filsafat moral Al-Biruni terkandung dalam teori tentang al-Muruwwa (kebajikan) dan al-Futuwwa (keutamaan) yang saling terkait, sebagai anugrah Allah SWT lewat mineral emas dan perak. Karena itu, emas dan perak harus digunakan untuk kesejahtraan umat dan negara.



Sumber : Majalah Barokah

Ar-Razi

Abubakar Muhammad ibn Zakaria Ar-Razi, lebih dikenal dengan nama Ar-Razi, adalah salah seorang intelektual muslim yang sempat membintangi sejarah peradaban dunia, yang di Barat lebih dikenal sebagai Rhazes. Dia juga perintis ilmu kedokteran yang menjadi rujukan dalam ilmu kedokteran modern. Lahir di Rayy, dekat Teheran, Iran, pada 846 M, ia wafat di kota kelahirannya pada 925 M.

Dididik dan dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat, sejak muda ia telah menggeluti filsafat, kimia, matematika, dan kesusastraan. Ia baru tertarik dan menekuni masalah kedokteran secara serius justru ketika mulai beranjak tua. Kejeniusannya di bidang kedokteran dan pengobatan menempatkannya dalam deretan ilmuwan muslim yang sangat dihormati di Barat.

Menurut AJ. Aberry dalam pengantar terjemahan buku karya Ar-Razi, The Spritual Physic of Rhazes (Penyembuhan Ruhani), Ar-Razi lebih banyak mencermati tradisi intelektualisme di sekitar filsafat, logika, eksakta, dan kedokteran. Dalam bidang kedokteran, ia belajar khusus sampai ke Baghdad. Kala itu Baghdad tengah dalam puncak keemasan intelektualisme. Di sanalah Ar-Razi berguru pada Humayun ibnu Ishaq, ulama yang menguasi ilmu pengoban, hingga menguasai dasar-dasar ilmu pengobatan.

Karena kepakarannya itulah, ia diangkat sebagai pemimpin sebuah rumah sakit. Selain menjadi dokter, ia juga mengajar. Ribuan mahasiswa tidak hanya berdatangan dari berbagai penjuru negeri muslim, tapi juga dari belahan dunia Barat. Ia menerapkan metode perkuliahan yang unik, tapi sangat mendidik. Yakni, memberi kesempatan kepada mahasiswa senior dan yunior untuk membahas berbagai persoalan. Jika mereka tak mampu memecahkannya, barulah merujuk kepada Ar-Razi. Sistem ini pula yang kini banyak dikembangkan di berbagai universitas terkemuka di Barat dan sebagian di Timur.

Selama 35 tahun berpraktek, ia tidak hanya berkeliling di sekitar Baghdad atau Rayy, Teheran, tapi juga ke beberapa daerah lain. Di tengah kesibukannya yang semakin meningkat, dan usianya yang semakin sepuh, ia terserang penyakit katarak hingga buta. Ketika dianjurkan untuk berbekam, ia menjawab "Tidak, aku sudah lama melihat seluruh dunia hingga letih"

Para ilmuwan Barat menyebutnya sebagai pionir terbesar dalam ilmu kedokteran. Sejarawan Max Mayerhof bahkan menyebutnya sebagai "tabib (dokter) terbesar dunia Islam, dan seorang yang terbesar sepanjang sejarah". Sementara sejarawan George Sarton menulis:
"Rhazes bukan hanya tabib terbesar dunia Islam dan Abad Pertengahan, ia juga kimiawan dan fisikawan. Ia adalah salah seorang perintis latrokimia zaman Renaisans. Ia sangat maju dalam teori, memadukan pengetahuan yang luas melalui kebijaksanaan Hippokrates".


Sumber : Majalah Barokah

Ibnu Rusyd


Abul Al-Walid Muhammad ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Rusydi, yang di Barat lebih dikenal sebagai Averrus, adalah ilmuwan muslim yang berpengaruh sejak abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya. Dialah yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan pemikiran Yunani. Ia lahir pada 1126 M di Qurtubah (Cordoba, Spanyol). Ayahnya ahli hukum yang sangat berpengaruh. Banyak pula saudaranya yang menduduki posisi penting di pemeritahan.

Kebesran Ibnu Rusyd sebagai pemikir sangat dipengaruhi jiwa zamannya. Kala itu, abad ke-12 dan beberapa abad sebelumnya, adalah zaman kemasan ilmu pengetahuan di dunia Islam yang berpusat di Andalusia, Spanyol, di bawah pemerintahan Dinasti Abasiyyah. Kala itu, para penguasa sangat mendukung perkembangan ilmu, dan sering memerintahkan para ilmuwan untuk menggali warisan intelektual Yunani. Berkat jasa merekalah, nama ilmuwan dan filsuf Yunani seperti Aristoteles, Plato, Phitagoras, Euclides, dan karya-karyanya terpelihara sampai sekarang.

Ibnu Rusyd adalah ilmuwan komplet. Selain ilmu filsafat, ia juga pakar ilmu kedokteran, sastra, logika, ilmu pasti, di samping mengetahui pengetahuan ilmu keislaman, khususnya tafsir Al-Qur'an dan Hadist maupun fiqih. Karya terbesarnya dalam bidang kedokteran, Al-Kuliyat fi al-Tibb (Hal-hal Umum Ilmu Pengobatan), menjadi rujukan utama ilmu kedokteran hingga kini.

Belakangan ia diangkat sebagai hakim agung di Cordoba di masa pemerintahan Khalifah Abu Ya'kub Yusuf dan anaknya Khalifah Abu Yusuf - posisi yang juga pernah dijabat kakeknya di masa pemerintahan Dinasti Al-Murabitun di Afrika Utara.

Jerih payahnya menerjemahkan karya-karya Aristoteles dan Plato, sangat berpengaruh hingga kini. Antara 1169 sampai 1195, ia menulis komentar megenai karya Aristoteles, yang kemudian diterjemahkan melalui bahasa-bahasa

Eropa dengan berbagai judul: De Organon, De Anima, Phisyca, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua itu sangat berpengaruh pada pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani.


Sumber: Majalah Barokah

Adukanlah Keluh Kesahmu Hanya Kepada Al-Rahman!

Oleh: Badrul Tamam Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah – ...

Copyright @ 2013 Desau rindu.