Senja mengangkang
Desau angin mengusik hati
Desir dedaunan berbisik sunyi
Dingin, hampa, jiwa terpagut rindu
Aku terdampar disni
Membenam dalam resah tiada tepi
Larut dalam galau
Menatap rimba dengan sejuta tanya
Rasa takut yang tak jua surut
Rasa cemas yang tak jua lenyap
Mengetuk asa, jiwa terpagut rindu
Sebentar lagi malam
Langit kan gelap, lalu pekat
Setumpuk kisah yang kekal kan hadir dikedalaman mimpi
Seperti wajah-wajah yang kujumpai siang tadi
Atau seperti jejaku yang membatu di sepanjang jalan antara Cimalaka dan Tanjung Kerta
Yang kelak akan kupaparkan menjadi prosa dua nyawa
Antara aku dan kesenyapan
Jiwaku terpagut rindu
Rindu yang tak kutahu untuk apa dan siapa
Hanya lolongan dalam batin yang diam-diam mencaci malam
Hanya wajah demi wajah yang melambar dalam ingatan
Sesaat membias, lalu lenyap bersama cahaya senja yang kian sirna
Mengapa hati terasa letih
Kala memandang gunung-gunung yang menjulang begitu tinggi
Kala menatap jalan yang berliku begitu rumit
Kala ribuan tangan menjulur meminta hati
Kala ribuan mimpi melambai di langit tinggi
Astaghfirullah...
Hatiku hampa, jiwa terpagut rindu
Duhai Dzat Semesta Rindu...
Jikalau diri yang rapuh ini t'lah tersesat di ruang waktu tiada berkah
Maka bimbinglah setiap langkah kakiku yang terayun, menuju tempat yang lebih terang oleh cahaya rahmat-MU
Jikalau diri yang lelap ini t'lah terbuai oleh rindu yang tiada manpaat
Maka tuntunlah setiap gerak hatiku yang mengalun.
Biarkanlah hati ini melantunkan Asma-Asma-MU Yang Maha Besar.
Mendamba-MU
Memuji-MU
Merindukan-MU...
Duhai Dzat Semesta Rindu...
Yanuka
Cimalaka,09012011,17.30wib
(Catatan disuatu senja yang hampa, kala jiwa terpagut rindu)


0 komentar:
Posting Komentar
Tuliskan komentar anda (sertakan nama bila yang dipilih: anonymous)